pengen ngopas atau ngutip isi blog ini??? izin dulu kam bray ke razakiko@yahoo.com biar makin ganteng hehe :)

Aku Mandailing atau Minangkabau ???



Aku
Mandailing atau Minangkabau ???

Tulisan  ini tak akan mengkaji pertentangan pendapat yang menganggap Mandailing sebagai sub-etnis dari sukubangsa Batak, Sumatera Utara dan Mandailing sebagai suatu etnis sendiri yang terlepas dari Batak. Terserah anda menyebutku orang Batak, Mandailing, atau bahkan Batak Mandailing sekali pun.

Dalam darahku mengalir darah Mandailing dan Minangkabau. Setidaknya saya menerima yang didoktrin oleh keluarga tersebut hingga memasuki bangku perkuliahanku di Antropologi Universitas Sumatera Utara. Selama ini aku hidup dan mengikuti kebudayaan Minangkabau. Bahasa Minangkabau jangan ditanya lagi, udah pasti faseeh karna aku dihidupkan secara Minang. Tapi aku juga bersyukur pada Tuhan karna diberikan kemampuan untuk menguasai bahasa Mandailing. Belajar secara ototidak karena semenjak kecil selalu diajak pulang ke kampung ibu kami. Bahkan semenjak tinggal di Medan aku mulai bisa berbahasa Toba. Itu karena aku suka mendengar lagu Batak Toba dan hidup bersama mereka. Lagian bahasa Batak Toba tidaklah pala jauh berbeda dengan bahasa Mandailing. Masih satu rumpun. Tapi aku agak sedikit kesususahan untuk mempelajari bahasa Karo yang mendiami utara Sumatera Utara ini.

Hingga suatu hari Tuhan memberikan jawaban pertanyaan di atas. Entah kenapa aku tertarik untuk membuka buku lusuh itu. Yapz itu buku raport ayah ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Awalnya aku hanya melihat lembar-lembar nilai dan catatan guru. Hingga akhirnya tertarik dengan pas photo ayah muda di halaman depan. Rambut ikal pria muda yang menjadi pesonanya. Dan apa yang menarik??? Hassan Basri Lubis, begitulah nama ayah bapak yang tertera dalam lembar pertama tersebut. Ompung (oppung), Inyiak, Atuk, atau entah apa tutur kekerabatan yang pantas ku ucapkan kepada beliau. Yang jelas aku tak pernah kenal siapa sosok kakekku tersebut. Tidak dikenalkan atau mungkin tak mau kenal itu kata yang lebih pas. Harusnya dari dulu aku mempertanyakan hal ini kepada ayah.

LUBIS orang bilang akronim dari LUAR BIASA, tapi jangan tutup mata ada juga yang bilang LUBANG BISUL hahahahahah. Terserah lah yang jelas aku bisa menarik suatu kesimpulan. Kakek kami bermarga Lubis, orang Mandailing yang kawin dengan nenek kami bersuku Jambak dari etnis Minangkabau. Mungkin karena kampung halaman kami terletak di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara, percampuran seperti ini kerap terjadi.

Berarti ayahku Lubis. Tapi kenapa ayah tak pernah bercerita kepada kami anak-anaknya??? Darah Minang lebih mendominasi dalam diri ayah. Jangankan adat, sekedar berbahasa Mandailing saja ayah tidak bisa mengucapkannya meskipun mengerti. Haruskah kusalahkan ayah??? Tak bisa kawan J itulah pilihan hidup beliau dan kita harus menghargainya.

Dan tahukah kalian??? Pasti gak tau karna aku belum kasih tau hehehehhehe. Ibu kami adalah seorang Mandailing tulen. Macamana tidak. Ompung dan nenek kami adalah orang Mandailing. Telusur punya telusur rupanya ompung dan nenek kami melakukan pernikahan semarga (baca: Lubis sama Lubis). So aku harus bilang wow gitu ??? hehehehhe. Agak sedikit menyimpang memang dari adat yang berlaku bagi notabene etnis Batak. Nikah semarga itu sama dengan nikah dengan saudara sendiri atau orang antropologi bilang taboo. Entah lah yang jelas bukan keluarga kami saja yang melakukan hal tersebut. Bahkan aku punya beberapa friend di akun Facebook yang memiliki nasib serupa. Mereka bilang bahwa dalam hal ini masyarakat ingin mencoba lepas dari kukungan adat. Asalkan seagama yang mayoritas Islam, mereka pun melakukan perkawinan semarga. Perkawinan semarga disini tidaklah dengan saudara kandung. Meski sesama marga Lubis tapi mereka berasal dari kampung yang berlainan.

Ah ya mau diapain lagi semua sudah terjadi. Aku berjanji kelak tak akan mengulangi pernikahan semarga lagi seperti yang dilakukan leluhur dan kedua orang tuaku. Setidaknya aku mencari Boru Nasution yang menjadi jodoh ideal katanya, orang Mandailing bilang istilahnya boru tulang. Aku paham betul hal itu mungkin aku lebih paham dari ayah, ibu, keluarga, bahkan nenekku. Di sini aku belajar martarombo.


1 komentar:

  1. pinky momo mengatakan...

    yang aku tau klo perkawinan semarga sama halnya kita kawin dengan saudara sendiri, n mungkin ortumu g' pernah mau membahas tentang kakek nenekmu karena dalam hukum adat mereka tidak dianggap lagi katanya juga jika kita kawin dengan saudara semarga ada kemungkinan nanti anak kita lahir dalam keadaan idiot
    :) :)

Poskan Komentar